Uji Adrenalin, JELAS CC Probolinggo Jajal Trek Taman Hidup

Uji Adrenalin, JELAS CC Probolinggo Jajal Trek Taman Hidup

Reporter : Hendra Trisianto
KRUCIL - Siapa yang tidak kenal kemegahan Danau Taman Hidup Gunung Argopuro? Bagi para petualang dan penggiat olahraga alam bebas, Danau Taman Hidup acapkali menjadi destinasi pilihan untuk menguji seberapa greget jiwa petualang mereka.

Tidak hanya dari luar daerah, komunitas penggiat olahraga alam bebas Probolinggo pun tak sedikit yang mengeksplornya dengan caranya masing-masing. Selama aktivitasnya tidak mengganggu dan merusak alam, mulai dari hiking, panjat tebing, fotografi alam, bahkan sampai olahraga bersepeda pun halal untuk dilakukan di sini.

Seperti yang telah dilakukan komunitas Jelajah Alas (JELAS) Cycling Club Probolinggo beberapa waktu lalu yang menjajal ekstrim trek Taman Hidup dengan bersepeda. Kondisi alam musim kemarau ditambah kualitas jalur yang memang kini lebih representatif, seakan mendorong mereka untuk menikmati pesona Taman Hidup dengan cara mereka.

Menggapai Danau Taman Hidup dengan bersepeda bukanlah perkara sepele. Terlebih dengan bersepeda, fisik dan mental baja serta spesifikasi khusus pada sepeda adalah elemen penting dan mutlak yang tidak bisa ditawar. Hal ini disampaikan Edi Cahyono (35) anggota komunitas JELAS asal Desa Bermi Kecamatan Krucil yang baru seminggu yang lalu berhasil menaklukkan trek Taman Hidup.

Petugas PPL Pertanian Kecamatan Krucil yang akrab dipanggil Yon ini menjelaskan, agar bisa mencapai Danau Taman Hidup spesifikasi sepeda gunung minimal memiliki ring 26×210 dan fork depan harus memiliki suspensi dengan kualitas standar. Perbekalan logistik harus memadai dan tidak boleh ketinggalan perlengkapan safety, peralatan lengkap sebagai antisipasi kerusakan serta jaket untuk menjaga suhu tubuh tetap stabil ketika sampai di Taman Hidup.

"Untuk mencapai spot impian ini, kami sengaja menunggu musim kemarau agar jalur lebih aman. Namun sebelumnya kami juga sudah banyak berlatih pada jalur-jalur yang relatif ringan seperti jalur 5 cm, jalur pasir berbisik Bromo, air terjun Krucil dan jalur lereng Argopuro lainnya dengan karakter trek gunung hutan," kisah bapak dua anak ini membagi pengalamannya.

Lebih lanjut Yon menjelaskan, waktu terbaik gowes menuju Taman Hidup adalah pagi hari. Start dari Bremi jam 07.00 WIB dengan menyusuri jalur areal perkebunan warga langsung menuju spot istirahat hutan Damaran, kurang lebih satu jam waktu yang dibutuhkan. Selepas itu sepeda sudah tidak mungkin lagi dinaiki karena karakter jalur merupakan tanjakan ekstrim sampai finish.

Umumnya dibutuhkan waktu 3 jam mencapai Taman Hidup dengan jalan kaki, namun dengan kondisi pergerakan sambil mendorong sepeda seperti ini, Yon dan rekan-rekannya butuh waktu 5 jam, tak terhitung berapa kali mereka harus istirahat dan menghela nafas. Dalam kondisi Inilah fisik dan mental diuji, solidaritas tim juga seakan menjadi pemompa semangat untuk terus maju.

"Sebenarnya di tengah jalur semangat kami sudah down bahkan kami sudah tidak ingin untuk melanjutkan perjalanan. Tapi dengan saling memotivasi satu sama lain kami berhasil melewatinya. Para pendaki juga seringkali memberi semangat kepada kami di sepanjang jalur, karena memang saat ini sedang ramai pendakian Argopuro," tuturnya.

Sekitar pukul 12.00 tim JELAS berhasil mencapai finish, perjuangan yang menguras tenaga itu terbayar sudah dengan kemolekan Danau Taman Hidup yang legendaris. Keagungan rimba raya yang memagarinya, fenomena datang dan berlalunya kabut khas Argopuro seakan turut menambah eksotika danau vulkanik di ketinggian 1968 mdpl itu.

Dalam suasana ketakjuban itu, mereka juga tergugah untuk ikut serta dalam aktivitas bersih-bersih sampah bersama para pendaki yang kebetulan sedang camp di situ. Setelah mental dan fisik kembali bugar dengan istirahat dan makan siang, tepat pukul 15.00 tim JELAS pun harus bergegas dan bersiap untuk tantangan selanjutnya yang jauh lebih seru dan menguras adrenalin, yakni trek menurun perjalanan pulang.

Pasalnya dalam perjalanan pulang ini sudah memungkinkan untuk menaiki sepeda dan hanya butuh waktu 45 menit untuk sampai bawah. Namun yang perlu diperhatikan adalah kondisi jalur sangat curam, kondisi sepeda yang prima, rem yang pakem dan kekuatan otot lengan serta konsentrasi mata semua diuji saat itu. "Itulah gunanya latihan, kami yakin tanpa latihan dan persiapan yang memadai kami tidak akan mampu atau bahkan bisa celaka," tegasnya.

"Bagi para goweser yang ingin menjajal trek Taman Hidup, silahkan untuk mencoba, mumpung musim kemarau. Keindahan alam dan syahdunya suasana rimba lereng utara Argopuro sepadan dengan perjuangan kita dalam menggapainya. Tapi ingat, karena kawasan ini termasuk Suaka Alam maka patuhi tata tertib, lalui pintu perijinan dan administrasi yang ada dan yang utama adalah jangan merusak lingkungan," tandasnya. (dra)